Popular Post

Posted by : blogjob Minggu, 12 April 2015

Umur tua bukan jaminan untuk mempersiapkan pernikahan, hal yang penting pendewasaan diri untuk memulai insan yang baru, serak jodoh sudah tersirat oleh-Nya, kira-kira itu seklumit pendapat para Ustadku di kampung. Tidak diduga dan disangka kiniumurku sudah cukup matang memulai keseriusan untuk maligai rumah tangga, jomblo hari ini! desakan dan gengsi muncul dalam benakku, sahabat bahkan keluarga sendiri menyindir tentang diri aku. Memang jodoh dan segalanya Allah sudah mentakdirkan buat kita, yang harus kita lakukan hanyalah usaha dan berdoa, duit ! modal besar dalam pondasi rumah tangga, yaitu tidak cukup, orang korporasi mengatakan“yang terpenting adalah duit (seperti lagunya alan mba dukun, hihiihi), tidak dipungkiri duit adalah segalanya, salah ! orang yang mengenal Islam sesungguhnya, duit tidak segalanya! Tetapi ketulusan itu sendiri kuncinya, memang zaman serba modern sekarang semua orang butuh duit, duit juga arti bukan hanya mata duitan, tetapi doa,usaha, iktiar dan tawakal, adalah ketulusan cinta itu sendiri. Cinta akan abadi ketika pancaran diri menerima dengan tulus dan melengkapi pondasi yang rapuh. Bahkan teori itu tidak dipakai oleh para petualang cinta, yang didapatkan hanya getir cinta yang tidak semestinya.------------------------------------------------------Suasana pagi ini cukup sejuk dibanding hari biasanya, entah lagi berbunga-bunga hati ini kebetulan hari ini hari libur, tepatnya bulan desember, lihat! disekitar taman depan yang mempesona bunga desember, bunga musiman ini hanya tumbuh di bulan desember, berwarna merah berbulu panjang yang enak dipandang untuk meluangkan waktu sejenak santai, sudah terbiasa dengan kesibukan kuliah, sering disibukan bikin makalah, dengarin dosen, ngantuk dikelas, ( heheee curhat ni), dan dengan terbiasa cuaca panas dan berpolutan disekitar rumah, dikalahi angin seejuk dari ujung timur, membuat hari berbeda dengan bertaburan inspirasi, dengan ditemani secangkir kopi panas dan sekelumit roti sisa, berbaring asyik didepan teras rumah yang kebetulan masi baru dicat, melihat pemandangan rumah yang riuh kicau alam burung-burung berterbangan mencari sejoliuntuk terbang bersamanya (so sweett hii­) terpikirkan juga olehku, burung saja menjemput pasangannya untuk terbang bersama, kok saya??? Memang misteri yah, padahal aku dulu mempunyai pasangan yang sangat cocok bahkan sampai ke jenjang yang lebih serius, tapi sepertinya tidak merasakan semuanya, melamun dan mengiang inspirasi di angan-angan membayangkan kekasih yang aku dambahkan, seandainya dia masih ada dalam kehadiran untuk hari ini, sungguh bahagianya aku, wanita itu berjilbab merah, cantik seperti bidadari yang jatuh dari langit, saking asyiknya ngigo sendiri, tiba-tiba kakakku datang dari samping seolah-olah mencari kambing hitam, memang kakakku itu senang jailin orang bahkan adiknya sendiri, sontak aku kaget dan malu, soalnya gerakan tanganku sambil ala teater dikelas, meng actionkan wanita yang aku dambahkan( haaaa beneran malu deh).Kakaku            : ey, bukannya kamu sudah putus? Kok masi saja mengingatkan dia?Aku                 : memangnya kenapa ? ( pasang muka bersahaja sedikit culun) masbulo ??( ala                    gaya             sekarang)Kakakku          : “ehmmm, tadi lagi kangen yah ?? sahut kakakku, kapan nikah ni ? sindir                           kakakku, berhenti sejenak dalam pikirannya, ogorang sudah lama pacaran                   kok belum nikah juga ( kepo deh ..)Aku                 : “muka sedikit kaget, mendengar langung suara kakaku yang semakin                                memojokkan, selama ini aku menutupi semuanya demi gengasi padahal aku                        sudah lama putus sama pacarku, ehhm nadaku dengan vokal yang jelas                                    “memang kenapa kalo belum menikah? Tidak ada salahnya kalo lagi mencari                         jodoh yang tepat, takut seperti tetangga sebelah tuh”, dengan nada yang                                        meyakinkan, “baru menikah sudah berapa minggu cerai tinggal pergi tuh                 istrinya sahutku.”Kakaku            : “yehh itu mah tergantung pasangannya, buktinya kakakmu ini baik-baik saja                     sampai sekarang, huhuhuhuu” ( berusaha meyakinkan si adiknya)Aku                 : Aku melamun sejenak yang sudah diomongkan olehnya, batinku kontras                          menganggap itu sebuah lelucon, itu anggap saja radio bodol, terngiang dalam                     diri, padahal dalam Islampun tidak boleh pacaran ( sok menasehati), niat                                    mantap langsung menikah. Memang selama ini aku menutupi hubungan aku                      dengan dia, semua orang tidak tahu akan status aku. Suasana telah berubah ketika ibuku datang dengan memasang wajah yang kelihatan lelah, memang ibuku ini luar biasa semangatnya, berjualan dari jam 5 subuh sampai menjemput fajar dan sesampai rumah dengan nadah kasihan “ assalamualai’kum nang nok bantuin barang dagangan ini taroh didapur seru ibuku”. Susasana pun kian berubah seperti power rangers heee, langsung saja tanpa basa-basi aku langsung mengeluarkan jurusan ampuh untuk membantu barang dagangan ibuku, jarang juga yang membantu barang-barang dagangaan sebarat itu, lagian kalo disuruh kakakku itu tidak akan mau.  Termenung sejenak dalam hati kecilku, andai aku mempunyai istri seperti Ibuku, sungguh bahagia hidupku, wanita yang solikha, bekerja keras, mandiri pokoknya super woman, melihat wajah Ibuku yang merasa belas kasih sayang yang tulus mengingatkanku pacarku, “sedang apakah gerangan disana? Gumamku.” Entah mungkin lagi belanja sama mamanya, nada lirihku.” Biasanya dia jam-jam segini lagi belanja buat keperluan dirinya, tapi kini berubah, stagnan hidup terus melaju, mungkin ini sebuah kenangan belaka yang bisa terukir dalam hidupku untuk dijadikan bingkai pengalaman, yakin Allah mengatur jodoh buat kita, saya berjanji sesuatu saat mendapat jodoh yang lebih baik. -----------------------------Desember ------------------------------Modernisasi hidup menuntut kita menjadikan serba up to date, kegengsian modal utama, melihat perkembangan zaman sekarang banyak sekali anak muda berpacaran sampai diluar batas norma-norma Islam, dari anak SDpun kini sudah mengenal sesungguhnya arti pacaran, sungguh sangat miris melihat pemandangan dicapnya anak RCTI (Rangda Cilik Turunan Indramayu) sangat malu akan status negatif yang dilontarkan oleh khalayak masyarakat, harus menerima kenyataan karena memang demikian, itulah kota kecilku Indramayu kota penuh hitam putih, tetapi aku bangga bisa lahir di kota tercinta , kota yang aman dan damai kaya akan baharinya, tetapi banyak yang tidak tahu cerita kota paling pojok laut ini ketika melihat di peta, Ceritanya bahkan banyak mereka nikah dibawah umur akibat pergaulan bebas, dan para hidung belang untuk memenuhi nafsu sexnya, mungkin dianggap gampang bagi mereka yang melakukan, kerugian akan menyesal esok nanti. Makan tuh cinta ! Memang cinta tidak mengenal waktu dan bebas, kadang rasa cinta itu timbul dalam diri seseorang secara naluri dan bisa jadi secara tidak sengaja menatap lawan jenisnya, itu hal yang wajar selagi masih dalam koridor norma, persis yang aku rasakan, sebagai manusia yang biasa aku juga pernah mengalami beberapa pacaran akhirnya putus ditinggal, dicuekin, dimatrein dan lain sebagainya. Tetapi pacaran yang dirasakan sepertinya mengarahkan ke arah yang serius bukan hanya untuk jalan bareng alias nongkrong, sebenernya tipe aku itu orang serius agak ambisius, yang mentaati perintah mamah dan papanya,karena aku fikir pacaran ada manfaat dibalik pacaran itu sendiri, kalau orang tua bilang buat memotifasi belajar saja dan menjadi pendewasaan.  Menjelang tahun baru, tepatnya bulan Desember kebetulan ditaman rumahku banyak sekali bunga desember yang tumbuh mekar berwarna mencolok, banyak tetangga yang sesekali memintanya, bunga desember nama bunga musiman yang hanya tumbuh dibulan desember yang cocok dengan cuacanya dingin membuatnya beradaptasi dengan respon positif terhadap lingkungan. bunga tersebut mengingatku akan kejujuran aku mengatakan cinta dengan membawa bunga desember satu tangkai, kebetulan dia sangat suka bunga desember, bahkan bunga tersebut ditanam kembali didepan rumahnya yang lumayan sempit. Pacar pertamaku yang diceritakan tadiseorang guru SD yang sembari honor di sekolah-sekolah, maklumlah orang kuliah sambil kerja . Dia guru yang sangat baik kepada murid-muridnya, pernah sekali membantu salah satu muridnya ketika si murid tersebut tidak bisa ke sekolah hanya alasan tidak mempunyai duit jajan, akhirnya dia merasa belas kasihan kepada anak didiknya, dan waktu itu tepatnya pagi dini hari dia langsung menemui aku untuk meluangkan waktunya untuk mengantar kerumah anak tadi, pada saat itu si anaknya tidak masuk sekolah selama 3 hari, dengan melihat keadaan seperti itu dia merasa empatinya tinggi, tanpa basa basi langsung dia ngajak aku ke rumahnya, dengan muka serius seperti orang yang siap menerima pertolongan ditambah wajah polosnya, “ bisa bantu aku tidak ? tandas si dia” sontak aku jawab karena pikir dia datang jauh-jauh dini hari dengan naik sepeda dengan muka belas kasih untuk meminta tolong “ada apakah gerangan datang kemari”, tumben betul biasa kemari juga tidak sepagi ini gumamku. Aku langsung dia suruh masuk kerumah, tidak enak dilihat oleh tetangga di sangka ada hal yang aneh. “ maaf aku harus buru-buru, jadi intinya kamu bisa antar aku tidak ?” dengan nada memastikan. “ ya bantu apa ? kok keliatannya buru-buru banget dan sekarang masih pagi, ” langsung dengan sigapnya dengan badan sedikit kurus dibaluti baju coklat kulit yang siap menemani kerja dinasnya. “ begini tadi ada anak murid aku yang kebetulan dia tidak mempunyai uang jajan, sampai sekarang si anak itu tidak masuk selama 3 hari,” aku hanya bisa diam melongo sejenak “ hanya membantu itu saja, kamu sampai relain datang kerumahku pagi ini “ detak hatiku berkata sungguh sangat mulia Ibu guru seperti dia, jarang ada Guru yang sebaik dia, tulus untuk mengajarkan sesuatu kebaikan dari hal yang kecil, langsung tanpa harus lama-lama tanpa mandi, dengan cuci muka, rambut sisir tangan, dan hanya pakai kaos polos putih dan sarung, aku antarkan dia ke rumah si anak tadi dengan naik sepedanya, keranjang didepannya, dan selalu tidak ketinggalan keranjang sepedanya dipenuhi oleh bunga desember,sungguh dia sangat menyukai bahkan dia mencintai bunga desember yang aku beri, pikiran yang tadi berbelok-belok kini tahu sebenarnya yang dimaksud, dia menaruh perhatian dan mengetahui seberapa cinta aku kepadanya. Ditengah perjalanan kami menusuri hutan belantara, pepohonan yang rindang begitu indah dan sangat sejuk, di bulan desember ini tepatnya sangat bahagia bisa bertemu dengannya, dengan mengayuh sepedanya kami berjalan dengan suka ria, berusaha menerjang bebatuan yang kadang membahayakan buat perjalanan ke rumahnya, dengan boncengan dua sejoli seperti tempo dulu, yang romantis dia berpegangan erat berusaha suapaya tidak jatuh, sesekali kami pernah jatuh dan dia tetap tersenyum, kadang kaki aku yang keram, harus mengayu berkilo-kilo, telah lama yang aku usahakan, akhirnya rumah yang kita tujuh sampai juga dengan usaha dan doa, dengan wajah berseri-seri dia langsung masuk kerumah si anak tersebut, ternyata anak tersebut mencari sesuatu disekitar rumahnya kiranya barang bekas untuk dijual, sontak dia langsung memanggilnya dengan nada lirih, “ nak andi ??? ini Ibu gurumu, dengan muka melas”. Si anak tersebut menengok langsung memeluknya dengan suka cita, setelah panjang lebar ngobrol dengan orang tuanya, ternyata si anak tersebut setiap harinya harus mencari nafkah untuk bisa berangkat sekolah yang lumayan jauh dari rumahnya, dia terus memotifasi anak dan Ibunya suapaya bisa berangkat sekolah lagi, kebetulan si Andi adalah anak yang pintar dikelasnya, pantas saja dia perjuangkan anak itu “ insya Allah nanti disekolah ada program beasiswa, nanti aku mengajukan ke Kepala Sekolah untuk mendapatkan beasiswa,” dengan Ibunya rasa tidak percaya, “ emangnya bisa ya bu ? nada melasnya kepada kami, “ wong Ibue orang bodoh, jadi tidak tau beasiswa, terimakasi banyak Ibu atas bantuannya, kata Ibunya Andi dengan nada lirihnya kepada kami. Untuk mencairkan suasana dia mencoba menghibur , dengan sedikit leluconnya, aku tidak mau ketinggalan untuk membalasnya, memang Ayah Andi telah meninggal sudah lama ketika dia masih bayi, kasihan melihat keluarga mereka dengan kesederhanaan tetapi sangat bahagia “ terimakasih kepada Allah bu, jangan kepada kami, kami hanya membantu saja, memang pantas kalo si Andi mendapatkan beasiswa karena pintar.” Dengan diam sejenak aku hanya diam melongo luar biasa, sungguh dambaan hidupku yang sangat mulia, sembari aku berdoa kepada Allah, mudah-mudahan ya Allah ini jodohku untuk terakhir kalinya.” Aamiin dengan nada hati-hati. Setelah panjang lebar ngobrol didalam ruangan yang lumayan sempit untuk dihuni, udara sejuknya mengantar sebuah pundi-pundi inspirasi, karenanya sekarang tidak ada jam mengajar, dia mengajak aku ke sebuah hutan yang di kelilingi oleh alang-alang yang sesekali dapat membisik setiap langkah kami. Suara kicauan burung yang khas daerah dusun sebuah kota kecil di Indramayu, corak yang sangat indah dan bunyinya yang begitu khas melengking dari kejauhan, termasuk burung yang langkah juga, pantas saja banyak para pemburu gelap yang berusaha untuk menembak, sontak rasa kaget yang mencekam suara tembakan yang mengarah perhatian kami dari arah samping, “ derrr dorrrr!!!!, suara apa itu!! Dengan nada kaget “ dengan empatinya dia langsung menghampiri penembak ilegal tadi, “ pak punten, dengan nada bersahaja “burung kalau di eksploitasi secara terus menerus akan punah, apalagi keberadaannya sekarang jarang ditemukan lagi dihutan ini,” dengan nada memastikan seolah seperti dia mengajar di kelas untuk menasehati para bapak paruh bayah itu. Dengan nada perhatian dan rasa ingin tahu dia menanyakan kembali kepada bapak itu, “ memangnya burung itu salah apa pak ? kok ditembak dengan nada polos, “toh terus buat apa ?” dengan ambigunya sikap bapak tadi, lantas pikiranku berubah menjadi geram, memang alam ini harus dijaga dan dirawat buat keseimbangan alam, sungguh dia sangat empati terhadap lingkungan dan sekitarnya. Padahal aku cuek saja, banyak ilmu pengetahuan alam yang aku pelajari selama di bangku pendidikan tetapi tidak begitu respect , rasa penasaran aku pun tinggi, Sesekali pernah aku bertanya kepada dia, “ motifasi apa dalam hidupmu, untuk menjadikan hidupmu berwarna? Pertanyaan yang menurutnya tidak berbobot, sambil berpikir sembari tersenyum dengan jawaban yang simpel, “ hidup ini bisa bermanfaat buat orang lain”. Aku hanya bisa terdiam sipu melihat wajah dan bahasanya yang bijaksana dan sopan santun. Seperti diamond yang harus dijaga supaya tidak dicuri oleh orang lain, aku anggap dia sebagai diamond yang berwarna kilau yang sangat mahal, tidak semua orang mendapatkan gadis itu, dengan keglamoran dini berkembang, dia tetap memegang etika zaman dulu, bahasanya yang sopan membuat siapa saja pasti terkagum melihatnya, kini saya harus bersyukur memiliki dia, biarpun sebatas pacaran buat semangat dalam belajar dan kegiatan yang positif, lebih syukur kejenjang yang serius lagi untuk mengarungi rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warohmah. Saya relakan berjuang sekuat tenaga untuk bisa mengarungi bersama kejenjang yang lebih serius, memang tidak gampang menuju ke arah sana, mengandaikan aku sudah punya pekerjaan dengan jabatan yang tinggi, supaya aku membelikan apa saja buat dia, tetapi dia itu berbeda dengan yang lain, dia tidak mau meminta apapun dari aku, atau sekedar buat jajan pun enggan, dia pernah bilang “ lebih baik memberi orang lain, dari pada meminta,” jawaban tersebut langsung aku tanggapin,” aku bukan maksud yang lain, aku hanya membuktikan cinta aku kepada kamu saja, tidak lebih itu kok,” dan hanya terseyum dengan tulus. Dan ketika dikasih bunga desember pasti dia tidak menampiknya, entah aku tidak tahu yang diuatarakan, dia memang suka banget bunga desember, mungkin banyak filosofi hidup dari bunga itu, karena cinta pertamanya aku kasihkan yang kebetulan cocok dan suka bunga desember, tetapi buat aku tidak masalah, yang penting dia bahagia dan bisa tersenyum, lantas dari itu aku rajin merawat dan menyiram bunga desember yang didepan rumahku, sebaliknya dengan dia malah lebih banyak subur karena rajin merawatnya, supaya tidak layu ibarat segar terus menerus, aku anggap dia menandakan baik-baik saja dan sebaliknya kalau layu dia merasakan ada firasat tidak baik, ( heee so sweet) itu hanya ilusi aku saja, saking cintanya aku kepadanya, mudahan cinta ini sampai puncak kejayaan perjuangan dan petualangan cinta aku yang terakhir dan pertama. Cinta menjadi gila bagi siapapun yang merasakannya, akhir-akhir ini hubungan pacaran pun hampir 2 tahun lebih, sungguh waktu yang tidak lama, membutuhkan kesabaran dan pendekatan yang tidak gampang, ibarat mencari peniti dalam kapas, pengorbanan darah mengalir ikut serta doa yang tulus dari insan yang berbeda, pacaran yang kami lakukandinilai positif oleh masyarakat bahkan sama keluarga sendiri tidak melakukan hal yang dilarang keras oleh agama, karena kita mempunyai prinsip orang yang berpendidiakan dan berkat restu Ibunya Ani dan Allah pastinya. Keyakinan pun semakin tumbuh aku pasti bisa mendapatkan dia ketika saya sudah mendapatkan kemapanan dunia maupun akhirat. ---------------------------Hilanglah sudah di bulan Desember------------------------- Kini kelengkapan hidupku bersama dia terus melakukan perombakan pondasi yang rapuh untuk memperkokoh lika liku yang terjadi, kini godaan menimpah kami, ayah dari dia tidak merestui tunangan kami, sungguh mengiris hatiku, dia tidak bisa berbuat yang semestinya lakukan, dia hanya pasrah kepada Allah, “ jodoh pasti Allah mengatur, mungkin kita belum jodoh mas” tandasnya, dia mengatakan dengan rasa takut dan cemas, saya mencoba meyakinkan keadaan itu, dia mengatakan sesuatu, kata yang baik buatku, “ kita putus, maaf dan terimakasih atas semua yang kita lakukan,” seikat bunga desember jatuh di tanganku sendiri untuk terakhir kalinya aku bertemu dia, tidak!! Bergelinangan air mata dengan perasaan yang luluh lantah lemas mendengar ucapan tadi, tidak mungkin dengan keadaan itu, sepertinya dia bercanda dalam benakku, tetapi dia serius,  mungkin dia masi raguh dengan keadaan aku,alasan Ayahnya membuat otak dia di cuci, berbeda usia yang jauh dan  masih kuliah tetapi belum mendapatkan pekerjaan yang mapan itu alasan kuat dari pikiran negatifku, tetapi dimanapun juga dia tetap Ayah yang harus di patuhi, aku pikir bukan lagi zaman siti nurbaya yang harus dijodoin sama orang tuanya, harapan yang begitu besar rapuh akhirnya, kesenangan jauh nestapa yang dibangun kini sirna sudah, orang berkata tidak mungkin! Memang itu kenyataannya,padahal dari semua itu sudah aku persiapkan semuanya buat pernikahan kedepan, sudah saling mengenal sesama kelurgaku dan sebaliknya, memang aku harus menerima kenyataan pahit ini, sungguh rasanya tidak boleh terjadi dan kadang menentang atas tindakan Tuhan terhadapku, “ kenapa harus terjadi ya Allah, doaku panjatkan untuk diberikan jalan jodoh yang terbaik buat aku dan pembenaran dalam permasalahan tadi.” Memang cinta tidak selamanya harus memiliki, cinta butuh oksigen panjang untuk disampaikan surat cinta kepada-Nya, takdir berkata lain memang harus menerima dan tidak kalah permainan sampai disitu. Segala intropeksi diri aku persiapkan semuanya demi lebih baik, dan meyakinkan kepada Ayahnya, entah tidak ada respon sedikitpun, aku mencoba mengiklaskan dia yang terbaik dengan pasangannya nanti, tidak ada dendam diantaranya, mencoba berpikir secara dewasa. Misteri jodoh entah kenapa dan kapan, kita memang tidak tahu, itu semua garis takdir sang pencipta, dan semua itu akan terjadi sama siapapun didunia ini, tidak ada yang tidak mungkin kehendak Allah, dengan semua cobaan itu mungkin lebih baik, karenanya jodoh tidak akan kemana, tetap mencari perualangan cinta didunia tidak berhenti sampai disini, tetapi untuk sekarang yang aku pikirkan tuntaskan kuliah lalu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, itu alasan semua orang untuk memilikinya, karena sebuah keyakinan dan kebersamaan sama dia terjalin erat, hampir kita baik-baik saja dan sesekali melakukan kesalahan atau sesuatu yang tidak disukai pun kita terbuka dan tidak saling menutupi. Tepatnya di bulan Desember, mantan pacarku sudah nikah dengan kekasih yang mungkin lebih baik dari aku, aku hanya bisa berdoa yang terbaik saja, perasaan yang lainnya berusaha santai dan tidak menapiknya dari orang tua maupun teman. Dan ketika itu aku pun sempat dapatundangan untuk mengahadiri pernikahannya, sungguh rasa decak kagum dimana aku harus bertemu dan melihat langsung kebahagiaan mereka dari raut wajahnya, saat itu sempat mengeluarkan kata-kata untuk selamat buat dia, dengan nada lirihku, dibalas dengan senyuman terakhir. Sebelum pernikahan berlangsung sempat aku mengirim surat buat dia, waktu itu setelah putus dari aku memang dia pindah rumah dan ngajar didaerah yang ditempati, sempat juga aku mengirim puisi buatnya.Diamond yang hilang Engkau memang diamond yang aku temui, dari beberapa banyak diamondMemang tidak mudah untuk mendapatkan diamond berkilau di ujung ufukPanas mentari dan dinginnya sama seperti perjuangan untuk mendapatkannyaStagnan dan kamuflase yang indah kita arungi bersama...Pandangan pertamaku membuat badan gemetarDi bulan desember aku mengatkan cinta dengan seikat bunga desemberMeronanya bunga seakan mengingatkanmuBahkan kamu sangat menerima dan menyukai bunga desember itu..Sungguh sangat indah yang engkau jawab.....Tidak ada kata yang terindah selain engkau tulus melakukannyaDan pertama untukmu dan terkahir untukmuTidak akan lepas segalanya buatmuDan lepas di ambil orang yang tepatDiriku terjerat cintamu, aku tak ingin lepas..Bertemumu suntikan semangat dalam hidupkuEngkau yang sangat mahal dimata orangKarena akan kebaikanmuDan ingin membelaimu nantiTetapi hanya drama kehidupan yang singgah... Rasa aroganku akan ku pinangmu dengan nada leluconkuSungguh memang omong kosong, itu murni dari hatiku.Engkau yang disana ingatlah kenangan akan kebaikanJauhkan hal yang mungkin bisa menyakitkanPapahmu melarang dengankuTidak apa, anggap semua itu ucapan dari TuhanTidaklah ada penyesalan dari memori yang kita lakukanSebisa mungkin hapus saja semua keceriaan bersamakuBiarku menangisi keadaan..Sendiri dan berdiri sendiri untuk memulai lagi petualangan cinta.Aku punya Allah yang selalu ada dalam hidup dan menemani setiap langkah dan doa.. By. Yang jauh disana di bulan Desember Setelah lamanya surat kiriman puisi dari aku tidak dibalas, padahal aku sudah menunggu balasannya, dan sampai akhir inipun aku menutupi akan retak hubungan aku dengan Ani. Tidak berani untuk bercerita kepada orang tua maupun sama teman, biar waktu saja yang menentukan dan pasrah kepada Allah, memang aku lagi merasakan galau besar, tetapi aku ingat ceramah Ustad di masjidku, memang kalau cinta ditolak harus sabar dan masih banyak perempuan yang cocok kelak nanti, jangan cinta ditolak dukun bertindak, itu salah !suntikan itu membuat saya harus bangkit untuk memulai kehidupan yang semangat, jangan menyerah gara-gara perempuan, sekarang harus lebih semangat mencapai prestasi terlebih dahulu. Siapakan dari sekarang dan junjung keyakinan itu. Pasti bisa tanpa dia disisiku dan harus sadari itu, dan aku tidak bisa membuat engkau jauh dalam hidupku, aku pasti bisa untuk tidak mengingat memori dengannya.Aku akan bisa melihat dirimu bersamanya, karena engkau bukan dambaan ku dan aku harus sadari itu, membuat aku harus menjauh darimu demi kebaikan bersama. Cinta tidak selamanya indah dan harus dimiliki.!!!! layulah sudah bunga Desember .
  

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © HeraHeriHeru - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -