Popular Post

Posted by : blogjob Minggu, 12 April 2015

Beberapa minggu ini, kita dihebohkan “ Pilpres 2014” mengapa saya mengatakan dihebohkan? Karena memang dalam minggu ini di media cetak maupun media elektronik sedang up to date  “ Pilpres 2014”, dengan rayuan manis yang ditawarkan untuk rakyat dan lebih parah lagi pemimpin yang mengaku islam serta pro dan kontra berbasis syariah, tetapi tidak sepenuhnya menjalankan syariah islam secara kaffah, sungguh ironis negara yang mayoritas islam terbanyak di dunia seperti mati suri. Pada zaman sekarang semakin ramai orang berlomba-lomba mengejar jabatan, seperti halnya berebut kedudukan sebagai Presiden dan Wakil Presiden 2014, sehingga menjadikan sebagai obsesi hidup. Menurut mereka yang menganut paham (prinsip) yang tidak berprinsip terhadap Al-quran dan Hadits (syariah), jabatan tinggi adalah sesuatu kegengsian terbesar dalam hidup, dan tidak lengkap rasanya selagi hayat dikandung badan, kalau tidak pernah (meski sekali) menjadi orang penting, dihormati dan dihargai masyarakat. Kenyataannya cara yang dilakukan dengan cara yang dilarang menurut syariah islam, seperti kampanye hitam (black campaign) dan segala macam cara yang tidak diperbolehkan dalam syariah islam. Berbicara tentang syariah islam tentu perhatian kita akan mengarah pada islam yang identik dengan kekerasan, teroris dan hal yang di anggap jelek di mata dunia, itulah kenyataannya. Mereka berebut jabatan tetapi tidak tahu tentang dirinya, dan lebih aneh mereka tidak tahu secara mendalam cara menjadi pemimpin yang baik dan bagaimana cara memimpin menurut syariah islam, yang dipikirkan mereka yaitu modal duit dan nekat serta SDM minim, sehingga ketika duduk di suatu jabatan memikirkan balik modal, keuntungan dan menambah asset, lantas apa yang terjadi, banyak koruspsi merajalela di negeri ini.  Berbasis syariah bukan hanya lebel saja, banyak sekali perbankan yang berbasis syariah tetapi aktualisasi dilapangan masih saja menjalankan praktik riba, memang berbasis syariah sekarang menjadi trend bagi masyarakat seperti halnya hotel berbasis syariah, kolam renang berbasis syariah, pertanyaannya “apakah segampang itu kita melebelkan berbasis syariah?” Tentunya tidak, kita harus selektif dan pengawasan terhadap Dewan Syariah Nasional (DSN) yang bermadzab kepada Al-quran dan Hadist seperti halnya mencari pemimpin. Hakikat kepemimpinan dalam Al-Quran dan Hadits sebagai pedoman hidup umat Islam sudah mengatur sejak awal bagaimana seharusnya kita menseleksi dan menjadi seorang pemimpin, dan jangan salah memilih pemimpin jika salah memilih akibatnya akan fatal, karena untuk hajat orang banyak.  Kriteria pemimpin menurut penulis adalah harus sesuai dengan syariah islam yang mengikut dalam Al-quran dan Hadist, dan para pakar telah lama menelusuri Al-Quran dan Hadits dan menyimpulkan minimal ada empat kriteria yang harus dimiliki oleh seseorang sebagai syarat untuk menjadi pemimpin. Semuanya terkumpul di dalam empat sifat yang dimiliki oleh para nabi/rasul sebagai pemimpin umatnya, yaitu: (1). Shidq, yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap dan bertindak di dalam melaksanakan tugasnya. Lawannya adalah bohong. (2). Amanah, yaitu kepercayaan yang menjadikan dia memelihara dan menjaga sebaik-baiknya apa yang diamanahkan kepadanya, baik dari orang-orang yang dipimpinnya, terlebih lagi dari Allah swt. Lawannya adalah khianat. (3) Fathonah, yaitu kecerdasan, cakap, dan handal yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul. Lawannya adalah bodoh. (4). Tabligh, yaitu penyampaian secara jujur dan bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya (akuntabilitas dan transparansi). Lawannya adalah menutup-nutupi (kekurangan) dan melindungi (kesalahan).  Empat sifat nabi/rasul sering kita dengar ketika waktu SD, bahkan sudah hafal diluar kepala tetapi belum memaknai secara mendalam arti tersebut. Padahal sudah jelas pada zaman itu nabi dan rasul menjalankan empat sifat tadi yang dijelaskan menjadikan hidup rakyat aman, sejahtera bahkan mencapai zaman keemasan yang dulu sebagai zaman kebodohan dan kemiskinan. Tetapi banyak yang harus diterapkan pada diri pemimpin, selain empat sifat tadi, yaitu kesabaran, keadilan yang sudah terterah dalam Alqur’an maupun Hadist. Jadikan pemilih yang cerdas bukan dijadikan tertindas oleh para sekularitas. Mari kita tegakkan syariat islam di bumi pertiwi yang kita cintai, jangan dijadikan pengeskploitasi negara lain yang berusaha menguasai kekayaan alam, slogan yang tepat untuk bangsa saat ini adalah dari korporasi untuk korporasi dan oleh korporasi. Memang menjadi pemimpin itu tidak mudah, banyak sekali yang harus diemban karenanya sebuah amanat besar harus dijalankan, menjadi sebuah pemimpin tidak hanya ngomong besar tetapi action langsung kepada rakyat atau dengan kata lain tidak sekedar mengucapkan dan menganjurkan, tetapi hendaknya mampu mempraktekkan pada diri pribadi kemudian mensosialisasikannya di tengah masyarakat. Pemimpin sejati harus mempunyai kepekaan yang tinggi (sense of crisis), yaitu “apabila rakyat menderita dia yang pertama sekali merasakan pedihnya dan apabila rakyat sejahtera cukup dia yang terakhir sekali menikmatinya” itulah pendapat pakar ilmu dikarenakan banyaknya permasalahan yang menimpah khususnya negeri kita tercinta, karena belum menjalankan syariah islam secara kaffah. Akhirnya dapat kita simpulkan dengan mengetahui hakikat kepemimpinan di dalam Islam serta kriteria dan sifat-sifat apa saja yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, maka kita wajib untuk memilih pemimpin sesuai dengan petunjuk Al-Quran dan Hadits (syariah) untuk terciptanya pemimpin untuk perubahan. Kaum muslimin yang benar-benar beriman kepada Allah dan beriman kepada Rasulullah saw dilarang keras untuk memilih pemimpin yang tidak memiliki kepedulian dengan urusan-urusan agama (akidahnya lemah) atau seseorang yang menjadikan agama sebagai bahan permainan/kepentingan tertentu. Sebab pertanggungjawaban atas pengangkatan seseorang pemimpin akan dikembalikan kepada siapa yang mengangkatnya (masyarakat tersebut). Dengan kata lain masyarakat harus selektif dalam memilih pemimpin dan hasil pilihan mereka adalah "cerminan" siapa mereka. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi saw yang berbunyi: "Sebagaimana keadaan kalian, demikian terangkat pemimpin kalian".Allahu Akbar!  

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © HeraHeriHeru - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -