- Back to Home »
- D3 (Diam Dalam Doa)
Posted by : blogjob
Minggu, 12 April 2015
D3 (Diam Dalam Doa) Hidup terus berputar, modernisasi hidup kian mengahanyuti perhelatan makhluk ciptaannya, serangkai permasalahan dan tantangan hidup, akan semua itu ada sebongka hikmah yang dalam batinku berkaca.Andai aku seperti manusia yang lain, pasti aku tak akan sesedih ini, ya seperti hari-hari aku yang selalu larut dalam kesedihan, kadang kesedihan itu Allah selalu ada dalam lindungan-Nya, tetapi kadang ketidak adilan muncul ketika hati berontak dalam persepsi radikal yang rendahnya kesadaran, sehingga kehidupan yang keras seolah menjadi tantangan dalam hidupku. Perkenalkan namaku Hera Wijaya, aku anak ketiga dari lima bersaudara, sebenarnya aku anak ke tiga dari tujuh bersaudara, takdir berkata lain, Allah mencabut nyawa dua kakakku yang meninggal puluhan tahun yang lalu ketika aku masih kecil, aku tinggal di sebuah kampung yang banyak hutan dan rendahnya pendidikan jauh dari keramaian dan hiruk pikuk kehidupan masyarakat. Kehidupannya hanya bergantung dari apa yang ada di sekeliling tempat tinggal. Orang tuaku dulu untuk bisa mendapatkan beras ia harus rela berjalan sejauh kurang lebih 3 km. Itu pun kalau mereka mampu membeli beras, minjam duit kesana kemari dengan perjuangan yang tak padam, membuatnya demi anak-anak bisa makan dan jajan, baginya cukup sederhana membahagiakan buah hatinya. Tubuh retak seakan tangisan dalam kelarutan dilematika hidup, semangatnya membara kian menggetarkan nafas insan yang sadar. Mendengar keluh kesah orang tuaku kepada kami, menceritakan apa yang terjadi ketika masa-masa sulit, sungguh hati ini tidak bisa berkata-kata, karenanya sekarang, aku, kakak dan adik-adiku memanjakan apa yang sudah disediakan orang tuaku. Tak dapat hasil yang semestinya,sungguh menyesal dalam hatiku, aku duduk diteras dibelakang bersanding diskusi dengan kakakku“ kak ... apa yang kakak pikirkan?“ kak.. pasti mereka capek kerja demi kita, berangkat Subuh pulang hingga petang malam, apa tidak ada rasa belas kasihan ?” seruku dan kakakku menjawab dengan wajah yang meyakinkan “ kakak juga tahu, bukan berarti kakak dengan sikap diam dalam kebodohan, tetapi kebisuhan sikap kakak ini lagi berfikir, pekerjaan seperti apa yang cocok untuk menghidupi keluarga” imbuh kakaku dengan nada lirih persis anak kecil minta uang jajan yang tidak dikasi sama Ibunya. Ibuku penjual soto ayam yang sudah lama bekerja sekitar 20 tahun, tidak sebanding dengan umur berniaganya, bukannya menjadi legendaris menjadikan yang semakin lelah rentan akan penyakit, Ibuku sekarang divonis penyakit gula darah atau Kencing manis membuat kadar gula berlebihan karena dengan beban aktivitas yang tinggi dan pola makan yang dibilang tidak mencukupi gizi, membuatnya pernah jatuh sakit, dengan perawatan seadanya menjadikan penyakit Ibuku semakin tidak membaik, dengan keterbatasan finansial untuk berobat membuatnya pasrah dengan keadaannya, dalam simpuhannya aku berdoa tengah malam memunajat kepada Allah supaya diberikan kesehatan yang pulih untuk Ibuku, berdoa sepanjang malam hampir tidak dilewatkan demi kehidupan keluarga menjadi lebih baik. Sikap diamku menjadi tanda tanya besar, selama ini doa dan usahaku ternyata sia-sia, yang ada hanya merepotkan orang lain di sekelilingku, rilih pedih rasa ini, membuatnya menjadi dilematik serba salah dan disalahkan, “ya Allah ampunilah dosa-dosaku dosa kedua orang tuaku jadikanlah mereka sesuatu kebaikan dan diberikan jalan yang terbaik, doaku pada saat itu.” Memang kakak pertamaku (laki-laki) ini sudah bekerja di luar negeri, keinginan kuat untuk modal nikah dan membiayai adik-adiknya sekolah, sebelumnya dia menganggur berbulan-bulan menunggu info lowongan kerja, yang keinginan kerasnya bisa bekerja di Indonesia, entah nasib belum diraih oleh kakakku, setelah lama menunggu kabar, keajaiban datang berkat doa, dari situ kakakku dapat panggilan kerja dari Agen tenaga kerja luar negeri, dia lari kebahagian menekan pundakku dengan keras “ Alhamdulilah dik, kakak dapat pekerjaan yang mungkin dibilang layak untuk kaka kerjakan, sebenarnya pekerjaan itu terlalu berat untuk dilakukan” dengan respon semangat “ memang kenapa kak”? Tanya adikku.”pekerjaan itu dilakukakan oleh mereka yang bertenaga besar dan kuat, karena setiap harinya harus membawa alat-alat berat semacam kerja kuli bangunan” dengan tatapan mata yang luluh “bukankah itu yang lebih baik untuk dilakukan kak , apa orang tua yang menjadi sarang permasalahan kak? “Dengan nada yang meyakinkan, serak kata terakhir pada saat itu------------------Semangat belajarku sungguh luar biasa dengan keyakinan untuk merubah hidup dan meraih cita-cita. Kehidupan yang sederhana dan serba pas-pasan, begitu besar dan berat perjuangan orangtuaku demi menyekolahkan anak-anaknya. Sandi adikku dan kakakku bertekad ingin bangkit dari kehidupan yang serba sulit. Ia ingin seperti teman-temannya, hidup dalam keramaian dan banyak teman. Bukan malah menyendiri di rumah menunggu serangan dari luar. Memang lingkungan yang tidak bisa menerima kami sebagai warga masyarakat, entah alasan apa yang dipikirkan mereka, bisa jadi alasan mereka yang tidak bisa menerima kami karena kami dari keluarga yang miskin dan keluarga yang minim pengetahuan, aku akan membuktikan kepada mereka yang sudah menghina keluarga aku, memang disadari Ibuku hanya lulusan SD, itupun tidak tamat alias tidak mendapatkan ijazah, dan Bapakku hanya sopir Elf yang tidak bersekolah kerjaannya hanya mondar-mandir di terminal, sungguhdari lubuk hatiku yang dalam seperti dalamnya air sumur, nadaku berdoa” ya Allah aku ingin sekali menjadikan orang yang disekeliling aku bisa tersenyum ikhlas, rasanya ingin membantu mereka yang kesusahan dan menyadarkan pemikiran mereka yang menyudutkan permasalahan menjadi runcing” malam itu menangis dalam kesedihan, isakan tangis ini membalas unek-unek pikiranku, untuk bermunajat kepada Sang Pencipta. Setiap pagi aku menyusuri jalan nan panjang dan penuh tantangan, agar aku sampai ke sekolah. Karena jarak rumah ke Sekolah SMK aku dibilang sangat jauh sekitar berjarak 23 kilometer, dan setiap hari uang sakuku habis di perjalanan menuju sekolah, menurutku tidak masalah kalau menempuh pendidikan, dengan permasalahan tadi aku harus bisa menyisihkan uang jajannya dan kadang harus relashaumsenin dan kamis. Sebelum aku bisa menikmati masa SMK, aku dulu hampir putus sekolah ketika zaman SMP, tepanya aku dulu sekolah di MTsN Karangampel di Indramayu, pada waktu itu aku mempunyai tetangga baru, dia pindahan dari desa sebelah, alasannya pindah karena dinas kerja. Dia orang baik , bersahaja dan bijaksana biarpun saat itu aku tidak kenal jauh tentang dia, tetapi aku yakin dari bahasa tubuhnya dia orang yang baik,yaitu seorang Guru SD bernama Pak Abdul Khobit tetangga dekatku sekitar 5 rumah dari jarak rumahku, dia memberikan perhatian penuh kepada aku selayaknya anak kandung sendiri, berawal dari situ akhirnya aku bisa menyambung sekolah MTsN di kampungku, dari segi historis aku bukan bagian hidupnya, karena mungkin hikmah dari Allah untuk hambahnya yang sabar dan terus pantang menyerah untuk meminta. Seolah datang malaikat yag turun dari langit, burung menari-nari, kesejukan hijaunya daun menjadikan aroma positif, kini hidupku mulai berubah rasa senang dan bangga, karenanya ada orang yang baik yang ikhlas membantu aku dan keluarga, sedikit mengurangi beban orang tua , pasalnya dana yag selama ini yang dikeluarkan baik dari peralatan buku dan SPP di maintenance oleh Sang Guru itu, menjadikan amanat yang besar yang harus aku emban selama periode drama hidup. Perubahan hidupku kini menjadi berarti bekal ilmu yang didapatkan selama MTsN yang membahas kajian-kajian Agama, gumam hatiku semakin kuat keyakinan dan merasa percaya diri untuk menerima musibah peran dinamika hidup, dengan itu aku lebih meningkatkan kedekatan aku dengan Sang Pencipta secara vertikal. Dulu zaman SD aku dikasih sebuah sepeda mini bekas yang di belikan oleh ayah angkatku yang aku ceritakan tadi, yang menjadi teman setia aku. Saat musim hujan tiba, jalanan selalu becek dan banyak lumpur yang menjerat sepeda kesayangan aku ini. Sepeda berwarna merah kusam dengan warna yang memudar, tak pernah mengeluh tatkala harus bermandikan lumpur, cemohan dan kerasnya mulut-mulut harimau yang seenaknya keluar masuk aku tak hiraukan omongannya. Pagi ini, aku siap berangkat sekolah. Hujan semalam, pasti akan menyisakan tantangan tersendiri dalam perjalan ke sekolah nanti. “Kak, kalau bajuku kotor, nanti teman-teman pasti akan menertawakanku.” Kata aku dengan wajah cemberut kebingungan. Santi kakaknya hanya tersenyum. “Sudahlah.. adikku yang manis ini tetap ganteng kok..” Kakakku mencoba menghibur aku, agar aku semangat ke sekolah hari ini. “Hera, Santi cepetan berangkat nanti telat…” Teriak emak mereka dari luar. “Iya, Mak..” Jawab aku. ”Ayo.., hujan semalam tidak membuatmu patah semangat, kan?” Tanya Kakakku sembari tersenyum. “Baiklah..” Akhirnya aku beranjak dari tempat duduk dan mengaitkan tasnya yang sudah tak layak pakai di punggungku. “Semangat..!” Kakakku menepuk bahu aku yang masih terlihat lemas tidak bersemangat. “Hati-hati..” Kata emak mereka. “Aku berangkat dulu, Mak..” Aku menjabat tangan emak. Kemudian disusul oleh Kakakku. “Jangan lupa, belajar yang baik. Jangan kecewakan bapak dan emak yang sudah susah payah mencari uang demi menyekolahkan kalian!” Pesan emaknya. “Iya, Mak..” Jawab Aku. Kata emaknya begitu lekat dalam hatinya. Segera tertanam dalam benaknya dan menjadi pengingatnya agar ia tetap istiqomah untuk belajar dengan baik demi kehidupan yang layak di masa yang akan datang. Aku terus mengingat pesan dari ibuku. Kata-kata itu terus terngiang-ngiang dan terus melecutiku agar semangat terus membara dan berkobar. Entah apa yang ada di pikiran Aku. Sepertinya, kata-kata ibu hanya berjalan melintas di telingaku. Pikiranku hanya tertuju pada tantangan yang akan aku hadapi di jalan nanti. Aku tidak ingin diolok-olok teman-teman, karena celana dan sepatunya kotor terkena lumpur. Hujan semalam benar-benar telah menguji kesabaran dan kepiawaian kami dalam menyusuri jalan yang licin dan penuh dengan lumpur. Jalan setapak dengan semak-semak di tepian jalan, membuat aku dan kakakku merinding tatkala dedaunan bergoyang dan menimbulkan bunyi-bunyian mengerikan. Udara dingin menerpa tubuh kami, dan tetesan air bekas hujan semalam menetes membasahi tubuh kami. Seketika rasa dingin menyergapi tubuhku, Kakakku hanya bisa memeluk erat bajuku yang basah. Kami hanya terdiam membisu menyusuri jalan. Pandangan kami fokus ke depan melihat genangan air yang penuh dengan lumpur berwarna merah kecokelatan. Otak terus berfikir bagaimana kami bisa melewatinya, tanpa harus terkena cipratan air kotor itu. Jika tidak, baju kami akan kotor dan ocehan teman-teman di sekolah akan berkicauan di gedung sekolahan dan mengalahkan kicauan burung yang bertengger di tower. Selain melewati jalan setapak yang licin dan penuh dengan lumpur, kami juga harus melewati sungai dengan bebatuan yang besar dan tajam. Selain itu, lumut hijau yang tumbuh di bebatuan terkadang membuat kami terpeleset. Belum lagi, kami harus menggandeng sepeda mini tuanya. Kakakku tahu, kao aku pasti sudah lelah dengan hari-hari yang sulit menyusuri jalan itu. Tapi. Kakakku terus memberi semangat pada aku. Karena kesadaranku bukan orang kaya dan hanya mengandalkan orang lain disekitar, membuatku terpukul rasa semangat untuk belajar, pada waktu itu aku dan kakakku cukup membanggakan kedua orang tuaku dan guruku, aku bisa mencapai target mendapatkan peringkat 10 besar, dan saat itu aku rutin mendapatkan peringkat satu, demikian juga dengan kakakku, dan segala juara perlombaan dan penghargaan jatuh rejekiku, sungguh doaku dalam permasalahan yang radius tinggi, membuatku merasa bersyukur dan yakin Allah maha melihat dan adil untuk aku dan keluargaku. Kebanggaan terbesar, tergeser sedikit rasa hina dan cemohan yang biasa dilontarkan masyarakat sekalipun keluargaku sendiri, karenanya aku bisa membuktikan prestasi yang cukup gemilang, rasa empati keluarga dan masyarkatpun tinggi, sanjungan demi sanjungan atas prestasiku, dalam benak rasa tinggi hatipun muncul dalam goresan hati, akan kucoba geser yang hanya sebagai kesombongan belaka, aku hanya bisa berfikir sejenak sanjungan mereka kepada kami, atau hanya sebagai teror atau buruk sangkaku entah hanya klise belaka yang sering ditonton dalam drama kehidupan.